Arab Saudi Proyeksikan 1 Ramadhan pada 19 Februari: Dinamika Astronomi dan Kesiapan Mekkah-Madinah

Arab Saudi Proyeksikan 1 Ramadhan pada 19 Februari: Dinamika Astronomi dan Kesiapan Mekkah-Madinah

RIYADH – Kerajaan Arab Saudi, melalui komite astronomi dan otoritas pemantauan hilal, telah merilis proyeksi ilmiah yang menyatakan bahwa 1 Ramadhan 1447 H kemungkinan besar akan jatuh pada hari Kamis, 19 Februari 2026. Prediksi ini didasarkan pada perhitungan matematis posisi bulan yang menunjukkan bahwa pada petang hari tanggal 18 Februari, hilal akan memiliki ketinggian dan elongasi yang cukup untuk terlihat jelas dari wilayah semenanjung Arab. Jika prediksi ini akurat, maka bulan Syakban akan disempurnakan menjadi 30 hari (istikmal).

Penetapan awal Ramadhan di Saudi bukan sekadar urusan agama, melainkan sebuah operasi logistik raksasa yang melibatkan koordinasi antar-kementerian. Tahun 2026 diprediksi akan mencatat rekor jumlah jamaah Umrah tertinggi pasca-perluasan Masjidil Haram. Pemerintah Saudi telah menginvestasikan miliaran Riyal untuk meningkatkan infrastruktur transportasi, termasuk pengoperasian penuh kereta cepat Haramain yang menghubungkan Jeddah, Mekkah, dan Madinah. Dengan awal puasa yang jatuh pada hari Kamis, akhir pekan pertama Ramadhan diprediksi akan menjadi puncak keramaian pertama di tanah suci.

Sisi menarik dari Ramadhan 2026 adalah penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk mengatur arus jamaah. Presidensi Umum Urusan Dua Masjid Suci telah meluncurkan aplikasi terbaru yang memungkinkan jamaah memesan waktu untuk itikaf dan pembagian makanan buka puasa secara digital. Langkah ini diambil untuk menghindari kerumunan yang tidak terkendali dan memastikan kebersihan di area masjid tetap terjaga. Selain itu, ribuan robot pembersih dan pemandu multibahasa telah disiagakan untuk melayani jutaan umat yang datang dari seluruh penjuru dunia.

Dari perspektif astronomi, tahun 2026 menawarkan visibilitas hilal yang cukup baik di wilayah Timur Tengah. Para ilmuwan di Observatorium Majmaah menjelaskan bahwa konjungsi bulan terjadi pada waktu yang menguntungkan, sehingga memberikan jeda waktu yang cukup antara tenggelamnya matahari dan tenggelamnya bulan. Hal ini secara teori memudahkan para pengamat (perukyah) untuk menangkap citra sabit tipis di cakrawala barat. Meskipun demikian, tradisi melihat bulan secara langsung tetap dipertahankan sebagai bagian dari warisan syariat yang tidak terpisahkan dari identitas budaya Islam.

Bagi ekonomi domestik Saudi, bulan Ramadhan adalah periode pertumbuhan ritel yang masif. Penjualan kurma dari perkebunan Al-Qassim diprediksi akan meningkat tajam, didorong oleh permintaan ekspor global yang mulai mengalir sejak awal Februari. Pemerintah juga memastikan stabilitas harga pangan di pasar-pasar lokal guna mencegah inflasi musiman. Ramadhan di Arab Saudi tahun 2026 diharapkan menjadi perpaduan harmonis antara tradisi spiritual yang mendalam dan efisiensi teknologi modern yang mendukung kenyamanan beribadah bagi seluruh umat Muslim.(Red.)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *