JAKARTA – Di Indonesia, kedatangan bulan Ramadhan selalu disambut dengan perpaduan antara ritual keagamaan dan tradisi budaya yang kental. Pada pertengahan Februari 2026, suasana haru dan khidmat menyelimuti berbagai Tempat Pemakaman Umum (TPU) di kota-kota besar. Tradisi nyekar atau ziarah kubur menjadi agenda wajib bagi jutaan warga sebelum memasuki bulan puasa. Di TPU Karet Bivak Jakarta dan TPU Bergota Semarang, ribuan peziarah datang untuk mendoakan leluhur, sebuah aktivitas yang secara psikologis berfungsi sebagai persiapan mental dan pembersihan diri sebelum menjalankan ibadah puasa yang suci.
Budaya ziarah ini tidak hanya memiliki dimensi spiritual, tetapi juga memberikan dampak ekonomi mikro yang signifikan. Para pedagang kembang musiman, pembersih makam dadakan, hingga pengelola parkir mendapatkan kenaikan pendapatan yang drastis. Pemerintah daerah biasanya memberikan kelonggaran operasional bagi pasar-pasar tradisional dan area pemakaman untuk mengakomodasi antusiasme masyarakat. Di saat yang sama, ritual Padusan di sumber-sumber mata air alami di Jawa, seperti di Umbul Ponggok atau kawasan wisata air Klaten, diprediksi akan dipadati warga yang ingin melakukan simbolisasi penyucian diri dengan mandi di air bersih yang mengalir.
Namun, di balik kegembiraan menyambut Ramadhan, pemerintah menghadapi tantangan klasik: stabilitas harga pangan. Kementerian Perdagangan dan Badan Pangan Nasional telah menginstruksikan operasi pasar besar-besaran mulai 10 Februari untuk menekan harga beras, telur, dan minyak goreng yang cenderung naik akibat lonjakan permintaan. Pemerintah memastikan bahwa stok nasional aman, namun spekulasi pasar tetap menjadi perhatian utama. Penjabat kepala daerah diminta aktif melakukan inspeksi ke gudang-gudang distributor guna memastikan tidak ada penimbunan barang pokok yang merugikan rakyat kecil.
Di sisi lain, keamanan dan ketertiban menjadi prioritas kepolisian. Operasi cipta kondisi digelar di seluruh Indonesia untuk memastikan suasana Ramadhan yang kondusif. Penertiban tempat hiburan malam dan pelarangan penggunaan petasan dilakukan secara persuasif namun tegas. Pemerintah juga mengeluarkan imbauan kepada organisasi kemasyarakatan (ormas) untuk tidak melakukan aksi sepihak atau sweeping ilegal, serta menyerahkan segala bentuk pengawasan kepada aparat penegak hukum yang berwenang.
Masyarakat Indonesia tahun 2026 juga menunjukkan tren baru dalam menyambut Ramadhan, yaitu melalui penggalangan dana digital atau crowdfunding untuk program sembako bagi warga miskin. Sifat gotong royong yang telah menjadi jati diri bangsa kini bertransformasi ke ranah digital, memudahkan siapa saja untuk berbagi berkah Ramadhan. Dari ziarah kubur hingga efisiensi ekonomi digital, persiapan Ramadhan di Indonesia mencerminkan wajah masyarakat yang religius namun tetap adaptif terhadap dinamika zaman, menciptakan atmosfer yang penuh dengan optimisme dan keberkahan.(Red.)

Leave a Reply