BOSTON – Sebuah studi berskala besar dari Universitas Harvard yang dirilis hari ini memberikan perspektif baru tentang kesehatan jantung. Peneliti menemukan bahwa profil bakteri dalam usus seseorang (mikrobioma) merupakan indikator yang jauh lebih akurat untuk memprediksi risiko penyakit kardiovaskular dibandingkan hanya mengandalkan kadar kolesterol tradisional. Studi ini melibatkan lebih dari 50.000 partisipan dari berbagai latar belakang etnis di Amerika Serikat dan Eropa.
Data menunjukkan bahwa jenis bakteri tertentu yang tumbuh subur akibat diet tinggi makanan olahan menghasilkan zat sampingan yang dapat memicu peradangan pada dinding arteri. Sebaliknya, individu yang mengonsumsi serat dari biji-bijian utuh dan makanan fermentasi memiliki mikrobioma yang menghasilkan zat pelindung bagi jantung. Penemuan ini mendorong perubahan besar dalam rekomendasi diet medis global, di mana fokus beralih dari sekadar “rendah lemak” menjadi “ramah mikrobioma”.
Industri suplemen dan makanan fungsional diprediksi akan mengalami ledakan inovasi menyusul temuan ini. Para dokter kini mulai menyarankan pasien jantung untuk melakukan tes mikrobioma usus sebagai bagian dari pemeriksaan rutin. Hal ini memberikan harapan bagi pengobatan yang lebih personal, di mana intervensi diet disesuaikan dengan profil bakteri unik masing-masing individu untuk mencegah penyumbatan pembuluh darah sebelum gejala fisik muncul.(Red.)

Leave a Reply