NUUK – Seiring dengan berputarnya kalender Hijriah menuju siklus musim semi di belahan bumi utara, umat Muslim di wilayah Arktik bersiap menghadapi salah satu tantangan fisik paling signifikan dalam ibadah mereka. Ramadhan 1447 H yang jatuh pada pertengahan Februari 2026 menempatkan kota-kota seperti Nuuk di Greenland dan Reykjavik di Islandia pada posisi geografis yang unik. Di wilayah ini, fenomena kemiringan sumbu bumi menciptakan durasi siang yang sangat panjang, memaksa jamaah untuk menjalankan ibadah puasa hingga lebih dari 16 jam sehari.
Fenomena durasi puasa yang ekstrem ini bukanlah hal baru, namun setiap tahunnya membawa tantangan medis dan logistik yang berbeda. Pada tahun 2026, transisi dari musim dingin ke musim semi di belahan utara berarti matahari terbit lebih awal dan terbenam jauh lebih lambat dibandingkan wilayah ekuator. Di Nuuk, fajar dimulai sangat dini, sementara rembang petang baru muncul ketika hari sudah sangat larut. Bagi komunitas Muslim kecil di sana, disiplin waktu menjadi kunci utama. Mereka tidak hanya harus menahan lapar dan dahaga, tetapi juga mengatur ritme tidur yang sering terganggu oleh durasi malam yang sangat singkat.
Para ahli kesehatan internasional telah mengeluarkan panduan khusus bagi Muslim yang berpuasa di wilayah lintang tinggi. Fokus utama adalah pada manajemen hidrasi. Dengan durasi puasa mencapai 16 jam, risiko dehidrasi meningkat tajam, terutama jika suhu mulai menghangat. Dokter menyarankan konsumsi karbohidrat kompleks saat sahur—seperti gandum utuh dan kacang-kacangan—yang melepaskan energi secara perlahan sepanjang hari. Selain itu, asupan elektrolit yang cukup saat berbuka sangat krusial untuk mencegah kelelahan otot dan pusing akibat ketidakseimbangan cairan tubuh.
Di sisi lain, perdebatan mengenai yurisprudensi Islam (fikih) kembali mengemuka. Di wilayah yang siangnya sangat ekstrem (atau bahkan mengalami matahari tengah malam pada bulan-bulan tertentu), beberapa ulama memperbolehkan jamaah untuk mengikuti jadwal waktu puasa di Mekkah atau negara terdekat yang memiliki durasi siang lebih normal. Namun, mayoritas komunitas Muslim di Reykjavik dan Nuuk biasanya tetap memilih untuk mengikuti waktu lokal sebagai bentuk keteguhan iman, kecuali bagi mereka yang memiliki kondisi kesehatan khusus. Keteguhan ini sering kali menjadi daya tarik bagi peneliti sosiologi yang mempelajari bagaimana minoritas agama beradaptasi dengan lingkungan alam yang ekstrem.
Secara ekonomi, durasi puasa yang panjang ini juga mengubah pola konsumsi di komunitas lokal. Restoran halal di wilayah tersebut menyesuaikan jam operasional mereka secara drastis, sering kali hanya buka beberapa jam antara waktu Maghrib dan fajar. Ramadhan 2026 di belahan utara tetap menjadi simbol kekuatan spiritual, di mana keterbatasan fisik akibat kondisi geografis justru menjadi sarana bagi umat untuk memperdalam kesabaran dan empati terhadap mereka yang kurang beruntung secara global.(Red.)

Leave a Reply