LONDON – Dunia kedokteran hari ini menyambut optimisme baru dalam perang melawan kanker. Tim peneliti dari institusi kesehatan terkemuka di London melaporkan bahwa uji coba manusia Fase 3 untuk vaksin personalisasi berbasis mRNA telah berhasil menurunkan risiko kekambuhan pada pasien melanoma stadium lanjut hingga 45%. Teknologi yang sebelumnya digunakan untuk vaksin COVID-19 ini kini sedang diarahkan untuk “melatih” sistem kekebalan tubuh manusia agar mengenali dan menghancurkan sel tumor secara spesifik.
Berbeda dengan kemoterapi konvensional yang menyerang sel sehat dan sel kanker secara bersamaan, vaksin mRNA ini bersifat sangat personal. Ilmuwan mengambil sampel genetik dari tumor pasien, mengidentifikasi mutasi uniknya, dan menciptakan instruksi genetik yang memerintahkan sel imun untuk menyerang target yang tepat. Laporan yang diterbitkan hari ini menekankan bahwa efek samping yang ditemukan sejauh ini relatif ringan, jauh di bawah dampak toksik dari pengobatan kanker tradisional.
Pemerintah Inggris melalui NHS (National Health Service) dikabarkan telah menandatangani kesepakatan untuk mempercepat akses pasien terhadap teknologi ini mulai tahun depan. Para ahli memprediksi bahwa keberhasilan pada kanker kulit ini akan membuka jalan bagi pengobatan jenis kanker lainnya, termasuk kanker paru-paru dan pankreas. Bagi dunia medis, ini adalah awal dari era di mana kanker bukan lagi dianggap sebagai hukuman mati, melainkan kondisi kronis yang dapat dikelola dengan presisi genetik. (Red.)

Leave a Reply