DUBAI – Ramadhan bukan hanya milik satu wilayah geografis; ia adalah fenomena global yang dirayakan dengan beragam warna budaya. Di Uni Emirat Arab (UEA), pertengahan bulan Syakban ditandai dengan tradisi Haq Al Laila, sebuah warisan budaya yang mirip dengan tradisi Halloween namun memiliki akar nilai kebersamaan Islam yang kuat. Anak-anak di Dubai dan Abu Dhabi turun ke jalan dengan tas kain tradisional, mengunjungi rumah tetangga untuk mengumpulkan manisan dan kacang-kacangan sambil menyanyikan doa-doa tradisional untuk keberkahan keluarga yang dikunjungi.
Tradisi ini bukan sekadar hiburan bagi anak-anak, tetapi merupakan cara masyarakat Teluk untuk menanamkan rasa memiliki terhadap identitas Islam sejak usia dini. Di tengah modernitas gedung pencakar langit, Haq Al Laila menjadi pengingat akan kesederhanaan masa lalu. Pemerintah UEA sering kali mengadakan festival budaya di area publik untuk mendukung tradisi ini, menjadikannya daya tarik bagi turis mancanegara yang ingin melihat sisi autentik dari kehidupan masyarakat Arab di luar kemewahan belanja.
Sementara itu, di Kairo, Mesir, pasar-pasar kuno seperti Khan el-Khalili mulai dibanjiri oleh pembeli Fanous—lentera tradisional Mesir yang terbuat dari logam dan kaca berwarna. Lentera ini memiliki sejarah panjang yang merujuk pada masa kekhalifahan Fatimiyah, di mana warga Kairo keluar membawa lampu untuk menyambut kedatangan sang khalifah saat bulan Ramadhan dimulai. Kini, Fanous telah menjadi simbol global Ramadhan, bahkan mulai diproduksi secara massal dalam berbagai bentuk modern, termasuk yang menggunakan lampu LED dan musik. Kehadiran lentera ini di jalanan Kairo menciptakan suasana magis yang menjadikan Mesir sebagai salah satu destinasi wisata religi terpopuler selama bulan suci.
Di London, pemandangan serupa terlihat di kawasan West End. Untuk tahun ketiga berturut-turut, pemerintah kota menyalakan instalasi lampu “Happy Ramadan” yang megah di Coventry Street. Inisiatif ini merupakan pengakuan atas kontribusi besar komunitas Muslim terhadap kehidupan budaya dan ekonomi Inggris. Ribuan lampu yang membentuk pola geometris Islami ini menarik perhatian ribuan pejalan kaki setiap malamnya, menciptakan jembatan dialog antar-budaya di tengah kota yang kosmopolitan. Banyak warga non-Muslim yang turut serta dalam kegiatan buka puasa bersama di taman-taman kota, menunjukkan bahwa nilai-nilai Ramadhan tentang berbagi dan kedamaian bersifat universal.
Dampak ekonomi dari selebrasi global ini sangat besar. Industri dekorasi, logistik makanan halal, hingga sektor penerbangan internasional mencatatkan pertumbuhan signifikan di bulan Februari 2026. Banyak maskapai penerbangan menawarkan paket “Ramadhan Experience” yang menghubungkan destinasi-destinasi bersejarah Islam seperti Istanbul, Kairo, dan Marrakesh. Ramadhan 2026 membuktikan bahwa meskipun ada perbedaan metode penentuan tanggal, semangat untuk menyambut bulan suci tetap satu: sebuah perayaan iman yang menyatukan umat manusia dalam kerangka kemanusiaan dan keindahan tradisi yang tak lekang oleh waktu.(Red.)

Leave a Reply