Pewartanasional.com

Netizen Journalisme

Bandara Seperti Pasar, Masjid Seperti Kuburan

Foto: Istimewa Antrian Tiket Bandara Soekarno Hata

 

 

Pewartasatu.com – JAKARTA – Sembilan hari menjelang lebaran, Bandara Soekarno-Hatta seperti pasar dipadati banyak orang. Sementara itu, masjid-masjid kosong, sepi seperti kuburan.
Foto-foto padatnya manusia di Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) beredar di media sosial, kemarin. Tampak antrean mengular panjang di Terminal 2. Jumlahnya ratusan orang. Kondisi ini mengingatkan kita ke suasana jelang lebaran di Stasiun Pasar Senen, atau membludaknya pembeli di Pasar Tanah Abang.
Kalau dalam situasi normal, mungkin pemandangan itu dianggap biasa-biasa saja. Tapi, di saat musim corona, hal itu jadi aneh dan tidak normal. Karena, memang sekarang ada aturan harus melaksanakan protokol kesehatan dalam rangka memutus mata rantai corona.
Para penumpang di bandara itu memang bermasker, tapi mereka tidak ada jarak fisik alias physical distancing. Betul-betul kerumunan. Antrean terjadi sejak pukul 04.00 WIB di posko pemeriksaan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19.
Di sini penumpang harus memperlihatkan berkas persyarataan bisa terbang. Namun, sekitar pukul 05.00 WIB sudah tak terlihat lagi.
Anette, seorang penumpang yang hendak terbang ke Semarang mengungkapkan, antrean sudah sangat panjang sejak ia tiba di Terminal 2 pukul 04.30. Saking panjangnya, dia tak bisa melihat barisan paling depan. “Kalah suasana pasar juga sama tadi di bandara,” ujarnya kepada Pewartasatu.com, kemarin.
Petugas bandara, memang mengarahkan agar para calon penumpang menjaga jarak. Namun, tak diindahkan. Bagi mereka, kata Annette, terpenting adalah buru-buru mendapat boarding pass dan terbang. Dia sendiri, baru berhasil mendapatkan boarding pass setelah 2,5 jam mengantre. Di ruang tunggu pun, jumlah calon penumpang membludak.
“AC sampai nggak terasa dinginnya saking penuhnya manusia,” tuturnya. Maskapai-maskapai yang berangkat, seingatnya, ada Lion Air, Batik Air, dan Citilink.
Terpisah, Senior Manager Branch Communications & Legal Bandara Soekarno-Hatta Febri Toga menjelaskan, kemarin ada sekitar 5.700 orang yang datang dan pergi melalui bandara itu. Menurutnya, jumlah itu tidak melebihi kapasitas bandara.
“Kapasitas kedatangan orang pergi dan datang di kita itu 150 ribu orang,” ujarnya, kemarin.
Menurut Febri, kepadatan terjadi ketika para penumpang antre untuk melakukan validasi data di posko Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19. Proses itu memakan waktu lama. Sebab, ada 3 dokumen yang harus dilengkapi agar penumpang bisa diizinkan terbang. Pertama, tiket keberangkatan. Kedua, surat alasan keterangan perjalanan bagi ASN atau PNS yang harus mendapat tanda tangan eselon 2 dari dinas. Kalau swasta dari atasan langsung dari perseroan atau dinas. Sedangkan jika di luar ASN atau pekerja swasta, harus dapat keterangan dari lurah atau camat bahwa penerbangannya bukan mudik. Ketiga, surat keterangan sehat bebas corona.
Sementara itu, ada 13 penerbangan yang keberangkatannya nyaris bersamaan, pukul 06.00-08.00. Rinciannya, sebelas penerbangan Lion Air Group dan dua penerbangan Citilink. Tak pelak, calon penumpang tumplek blek di Terminal 2.
Mengantisipasi kondisi tersebut terulang kembali, pihak Bandara Soetta akan menambah petugas validasi data yang kini hanya berjum lah 60 orang. Selain itu, jadwal penerbangan akan diatur agar waktunya tak berdekatan.
Kondisi di bandara ini berbanding terbalik dengan masjid. Di bulan Ramadhan, masjid-masjid yang biasanya disesaki jamaah, kini nyaris kosong melompong. Sholat lima waktu sepi jamaah. Karena Sholat Tarawih ditiadakan, menyusul Sholat Jumat yang sudah duluan.
Menyikapi kondisi ini, anggota Komisi VIII DPR, Maman Imanulhaq meminta, pemerintah merelaksasi masjid. “Kemarin waktu rapat kerja dengan Kementerian Agama saya mengusulkan agar relaksasi atau kelonggaran masjid dibuka,” ujarnya, kemarin. “Jangan sampai masjid mati, terlihat sepi seperti kuburan,” imbuh anggota Dewan Syuro PKB ini.
Maman mengatakan, penerapan physical distancing di masjid lebih mudah dilakukan ketimbang tempat keramaian lainnya. Para jamaah, dibatasi jumlahnya agar ada jarak. Kemudian, ketika masuk harus pakai masker, cuci tangan, dan dicek suhu tubuhnya. Selain itu, untuk sementara lantai masjid tidak dialasi karpet.
Senada, Ketua Bidang Komisi Dakwah MUI, Cholil Nafis juga mempersilakan umat Islam untuk datang ke Masjid. Asalkan, tetap mengikuti protokol kesehatan.
“Lha iya wong kita ke bank boleh, ke bandara juga boleh, masa ke masjid nggak boleh. Yang penting kan mengikuti protokol kesehatan,” tuturnya. “Jangan dibikin sepi masjid, harus diramaikan,” imbuh Cholil.(Ale Baihaiki)

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *