PEMBANGUNAN RDF DI PULAU G JAKARTA, TPA SAMPAH TIDAK TERWUJUD – DARURAT SAMPAH MENGANCAM Jakarta, Media – Darurat sampah saat ini di Jakarta, sesungguhnya jauh hari sudah diantisipasi. Pulau G sebagai pulau reklamasi Teluk Jakarta direncanakan menjadi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan lokasi pembangunan Pabrik Refuse Derived Fuel (RDF) namun tidak terwujud. Pada masa Gubernur Fauzi Bowo tahun 2010, perencanaan tersebut sudah dimatangkan bersama staf ahli dan jajaran Bapeda Pemda DKI Jakarta untuk TPA di Pulau Reklamasi G yang bekerjasama dengan investor asing dan konsultan lingkungan dari Tokyo, Singapura, dan China. Dr. Sri Herowanti Susilo, SE, SH, MH, mantan pejabat Bapeda Pemda DKI Jakarta, mengungkap hal tersebut. Ia menyayangkan gagalnya rencana itu, padahal studi banding dan observasi langsung ke pulau-pulau yang dijadikan TPA di tiga negara sahabat sangat menakjubkan – pulau sampah menjadi berkah. “Pulau-pulau TPA menjadi pulau yang berasal dari sampah menjadi berkah, karena bisa menghasilkan untuk mendukung ekonomi,” katanya kepada sesama purna bakti mantan pejabat Pemda DKI Jakarta, Kamis (2/10). “Perencanaan Pulau G sebagai reklamasi dan TPA tersebut tidak terwujud, sedangkan harapan kita saat itu sudah menganalisa bakal terjadi darurat sampah di masa mendatang dan dampaknya lebih parah dari banjir yang melanda ibukota sekali setahun,” kata Sri yang juga dosen, serius. Menurut Drs. Risman Thomas, MAP, MM, Sekretaris Jenderal DPP GMPI Jaya Forever, mantan pejabat Linmas Satpol PP DKI Jakarta Pembina IV/a, hal ini sejalan dengan hasil diklat International Civil Defence Organisation (ICDO) berpusat di Swiss yang mengutip _”United Kingdom Experience stopping landfill and converting waste to fuel” Inilah perencanaan Bapeda yang sejalan dengan tugas-tugas perlindungan masyarakat (Linmas) Satpol PP sebagai pelaksana dan eksekusi di lapangan untuk membantu bencana banjir dan saat ini sampah yang bertebaran di setiap sudut kota Jakarta. Pengalaman UK dan US sejak tahun 1800 keterbatasan lahan untuk TPA kemudian limbah sampah tersebut dirubah, krisis sampah menjadi barang berharga. Kuncinya RDF, yang dikelola kemudian menjadi bahan bakar, listrik, bensin, kompos, biogas harus dilestarikan untuk masa depan. GMPI sudah membentuk Tim Darurat Sampah, persis seperti apa yang diharapkan Jakarta untuk mengatasi sampah sejak Agustus TPA Bantargebang ditutup tapi masih dapat menampung limbah organik, kata Suherman, SE, Ketua Bidang Pembangunan Ekonomi DPP GMPI Jaya Forever sekaligus Ketua Tim Darurat Sampah yang mendesain Jagakarsa sebagai pilot project. Menurutnya, pihaknya sudah kolaborasi dengan investor luar negeri dan memakai teknologi _”Waste to Energy”_ yang disiapkan pemodal kolaborasi dengan pengusaha Jerman. Dari tiga unsur yang diharapkan – Legislatif, Investor dan Operator – sudah siap 100 persen, menunggu audiensi dengan pejabat terkait Pemda DKI Jakarta. “Dari 8000 ton limbah sampah Jakarta setiap hari, Jagakarsa hanya diberi 12 kuota untuk menampung limbah sampah sebanyak 300-500 ton per hari. Limbah sampah dari Jagakarsa hanya bisa dijadikan RDF 40% diolah jadi bahan bakar berasal dari sampah,” jelasnya. Namun kendala saat ini lahan yang dibutuhkan oleh tim GMPI masih menunggu jawaban Pemda DKI Jakarta yang sudah bersurat. Tim siap menggunakan lahan Pemda yang menjadi lahan tidur sebagai tempat penampungan limbah yang langsung diolah menjadi RDF. Investor dalam dan luar negeri, jika lahan tidur yang disiapkan Pemda Jakarta, siap untuk kontrak 5-30 tahun. Sebab dibutuhkan karyawan pemilah limbah sampah, operator mesin yang didatangkan dari Jerman dan membangun mess karyawan yang dibutuhkan 100-500 pekerja. “Perencanaan Pulau G sebagai reklamasi pantai, GMPI siap bermitra dengan Pemda, kita terganjal di unsur Legislator. Investor dan operator yang ada 38 orang, siap dan 8 orang pengurus inti dan 30 pekerja yang saat ini mengelola limbah sampah di wilayah Jagakarsa Kota Administrasi Jakarta Selatan,” pungkasnya. – PFI – 0 Post navigation Empat Orang Preman Datangi Rumah Warga Dengan Membawa Senjata Tajam. Subject: RDF Development on Pulau G Jakarta – The Unrealized Waste Management Solution for Jakarta’s Waste Emergency