Retaknya Aliansi Transatlantik: Kontroversi ‘Board of Peace’ Donald Trump dan Masa Depan Diplomasi Eropa
BRUSSELS – Hubungan diplomatik antara Uni Eropa (UE) dan Amerika Serikat (AS) kini berada di titik nadir yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak Perang Dunia II. Inti dari ketegangan ini adalah pembentukan Board of Peace (BoP) oleh Presiden Donald Trump, sebuah badan penasihat luar negeri yang beroperasi di luar jalur Departemen Luar Negeri konvensional. Uni Eropa secara terbuka menuding bahwa BoP bukan sekadar alat perdamaian, melainkan instrumen politik pribadi untuk mengonsolidasikan kekuasaan Trump di panggung internasional, mengabaikan protokol multilateral yang selama ini dijunjung tinggi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Kritik pedas muncul dari Brussels setelah BoP mengklaim secara sepihak keberhasilan gencatan senjata permanen di Jalur Gaza. Sementara Washington merayakan ini sebagai kemenangan diplomatik “Trumpian”, para pemimpin Eropa termasuk Presiden Prancis dan Kanselir Jerman menyatakan keraguan mendalam. Mereka berargumen bahwa klaim tersebut mengabaikan akar masalah konflik dan hanya memberikan solusi jangka pendek yang menguntungkan sekutu politik tertentu di Timur Tengah. Ketegangan ini diperparah dengan pernyataan retoris dari Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, yang menyebut PBB sebagai “relik masa lalu” yang tidak lagi efektif dalam menyelesaikan konflik modern.
Secara struktural, BoP diisi oleh loyalis Trump dan mantan eksekutif sektor swasta, yang menurut analis politik Eropa, lebih mengedepankan pendekatan transaksional daripada diplomasi berbasis nilai. Uni Eropa khawatir bahwa pendekatan ini akan menghancurkan tatanan internasional berbasis aturan (rule-based order). Jika AS terus bergerak menuju isolasionisme yang selektif—di mana mereka hanya terlibat dalam konflik yang memberikan keuntungan ekonomi langsung—maka Eropa akan dipaksa untuk mempercepat kemandirian strategis mereka. Hal ini mencakup pembentukan tentara Eropa yang bersatu dan sistem keuangan yang tidak lagi bergantung pada dominasi Dollar.
Dampak dari perpecahan ini sangat luas. Di dalam negeri AS, oposisi mengecam BoP sebagai “kementerian luar negeri bayangan” yang tidak memiliki akuntabilitas publik. Sementara di Eropa, meningkatnya sentimen anti-Amerika di kalangan elit politik dapat memicu perubahan kebijakan perdagangan yang drastis. Pasar global kini memantau dengan cermat; ketidakstabilan diplomatik antara dua kekuatan ekonomi terbesar ini biasanya diikuti oleh volatilitas pasar komoditas dan mata uang. Tahun 2026 diprediksi akan menjadi tahun di mana diplomasi tradisional “bersalaman” digantikan oleh diplomasi “tekanan maksimal” yang penuh risiko. (Red.)







