Sanae Takaichi dan Fajar Baru Politik Konservatif: Transformasi Jepang di Panggung Indo-Pasifik
TOKYO – Terpilihnya Sanae Takaichi sebagai Perdana Menteri wanita pertama Jepang bukan hanya sebuah kemenangan simbolis bagi kesetaraan gender di Asia, tetapi juga pergeseran fundamental dalam postur geopolitik Jepang. Takaichi, yang dikenal sebagai politisi konservatif garis keras dan murid spiritual mendiang Shinzo Abe, baru saja dinobatkan sebagai tokoh paling berpengaruh di dunia oleh berbagai publikasi internasional. Visinya jelas: mengakhiri era “pasifisme pasca-perang” Jepang dan mengubah negara tersebut menjadi kekuatan militer yang disegani untuk membendung dominasi Tiongkok di Indo-Pasifik.
Di bawah kepemimpinan Takaichi, Jepang telah meluncurkan program modernisasi militer terbesar dalam sejarah modernnya. Ini mencakup pengembangan rudal jarak jauh, penguatan aliansi intelijen “Five Eyes”, dan peningkatan anggaran pertahanan hingga 3% dari PDB. Takaichi berargumen bahwa dalam dunia yang semakin tidak stabil, Jepang tidak bisa lagi hanya mengandalkan payung keamanan AS. Ia mempromosikan konsep “Proactive Contibution to Peace”, yang dalam praktiknya berarti Jepang akan mengambil peran lebih aktif dalam latihan militer bersama di Laut Tiongkok Selatan dan Selat Taiwan.
Kebijakan ekonomi Takaichi, yang dijuluki “Takaichinomics”, fokus pada kemandirian rantai pasok teknologi tinggi. Jepang kini memberikan insentif besar bagi perusahaan semikonduktor global untuk membangun pabrik di dalam negeri, sekaligus membatasi ekspor teknologi sensitif ke Tiongkok. Langkah ini disambut baik oleh Washington namun dikecam oleh Beijing sebagai “mentalitas Perang Dingin”. Di tingkat domestik, Takaichi berhasil memenangkan hati pemilih dengan janji stabilitas nasional dan penguatan nilai-nilai tradisional Jepang, meskipun ia terus dikritik oleh kelompok progresif karena kunjungannya ke Kuil Yasukuni yang kontroversial.
Keberhasilan Takaichi juga memberikan dorongan bagi kepemimpinan wanita di seluruh Asia. Ia membuktikan bahwa pemimpin wanita dapat memimpin dengan agenda keamanan nasional yang keras, mematahkan stereotip tradisional tentang kepemimpinan feminin. Bagi ASEAN, kebangkitan Jepang di bawah Takaichi membawa peluang sekaligus tantangan. Di satu sisi, Jepang menjadi penyeimbang kekuatan yang diperlukan terhadap Tiongkok; di sisi lain, peningkatan militerisme Jepang membangkitkan memori sejarah yang kelam di beberapa negara Asia Tenggara. Dinamika Indo-Pasifik di tahun 2026 akan sangat ditentukan oleh sejauh mana Takaichi mampu menyeimbangkan ambisi militernya dengan diplomasi ekonomi di kawasan.(Red.)






