Pewartanasional.com

Netizen Journalisme

Viktor Orban dan Krisis Ketahanan Energi: Mengapa Hongaria Menantang Arus Utama NATO?
Internasional Politik

Viktor Orban dan Krisis Ketahanan Energi: Mengapa Hongaria Menantang Arus Utama NATO?

BUDAPEST – Perdana Menteri Hongaria, Viktor Orban, sekali lagi menempatkan dirinya sebagai “anak nakal” di dalam aliansi NATO dan Uni Eropa. Dalam pidato nasionalnya hari ini, Orban secara eksplisit melabeli Ukraina sebagai “musuh energi” nasional Hongaria. Istilah keras ini merujuk pada upaya gigih Kyiv untuk memaksa negara-negara Eropa menghentikan total impor gas dan minyak dari Rusia paling lambat tahun 2027. Bagi Orban, tuntutan Ukraina tersebut bukan sekadar solidaritas perang, melainkan ancaman langsung terhadap kelangsungan ekonomi dan stabilitas domestik Hongaria.

Hongaria adalah salah satu negara di Eropa Tengah yang paling bergantung pada infrastruktur pipa warisan Uni Soviet. Mengalihkan sumber energi ke penyedia alternatif seperti AS (dalam bentuk LNG) atau Qatar memerlukan investasi infrastruktur triliunan Forint dan waktu bertahun-tahun yang tidak dimiliki Budapest saat ini. Orban berargumen bahwa rakyat Hongaria tidak seharusnya membayar harga dari konflik yang menurutnya bisa diselesaikan di meja perundingan jika Barat berhenti memasok senjata ke Ukraina. Posisi ini menempatkan Hongaria dalam isolasi politik di dalam NATO, di mana anggota lain seperti Polandia dan negara-negara Baltik melihat sikap Orban sebagai pengkhianatan terhadap nilai-nilai demokrasi.

Perselisihan ini mencapai puncaknya ketika Hongaria mengajukan gugatan ke Mahkamah Eropa terhadap paket sanksi energi terbaru Uni Eropa. Orban menuduh Brussels melakukan “pemerasan politik” dengan menahan dana pemulihan ekonomi Hongaria sebagai tekanan agar mereka menyetujui embargo gas Rusia. Di sisi lain, Ukraina merasa dikhianati oleh tetangganya sendiri. Kyiv berpendapat bahwa setiap Euro yang dibayarkan Hongaria untuk gas Rusia secara langsung membiayai mesin perang Moskow yang menghancurkan kota-kota Ukraina.

Secara geopolitik, manuver Orban mencerminkan keretakan yang lebih dalam di Eropa Timur. Muncul blok baru yang lebih pragmatis terhadap Rusia, yang berlawanan dengan blok pro-Ukraina yang garis keras. Analis memperingatkan bahwa jika NATO tidak mampu menyatukan suara anggotanya terkait ketahanan energi, maka aliansi pertahanan ini akan melemah dari dalam. Rusia, dalam hal ini, dianggap sebagai pemenang utama dari perpecahan ini, menggunakan energi sebagai senjata politik (energy weaponization) untuk memecah belah solidaritas Barat. Hongaria kini berada di persimpangan jalan: mempertahankan ekonomi dengan risiko dikucilkan secara politik, atau mengikuti arus utama NATO dengan risiko krisis energi domestik yang hebat. (Red.)

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *