Konferensi Keamanan Munich 2026: Menghadapi Realitas Dunia yang ‘Under Destruction’
MUNICH – Langit Munich yang mendung menjadi latar belakang yang pas bagi para pemimpin dunia yang berkumpul untuk Konferensi Keamanan Munich (MSC) ke-62. Tema tahun ini, “Under Destruction”, mencerminkan kecemasan kolektif bahwa sistem internasional yang dibangun setelah tahun 1945 sedang runtuh secara sistematis. Dengan absennya dialog yang bermakna antara kekuatan besar dan meningkatnya perlombaan senjata nuklir maupun digital, konferensi ini dianggap sebagai upaya terakhir untuk mencegah eskalasi konflik global yang lebih luas.
Kanselir Jerman, Friedrich Merz, dalam pidato pembukaannya menekankan bahwa era di mana Eropa bisa “menumpang” keamanan pada AS telah berakhir. Dengan kembalinya kebijakan America First, Eropa harus mampu mempertahankan dirinya sendiri dari ancaman hibrida Rusia dan ekspansionisme ekonomi Tiongkok. Fokus diskusi beralih dari sekadar pertahanan perbatasan menuju pertahanan siber dan kontrol terhadap kecerdasan buatan dalam sistem senjata otonom (AI Weaponry). Banyak negara berkembang yang hadir juga menyuarakan ketidakadilan dalam tatanan saat ini, di mana krisis iklim dan utang nasional sering kali dikesampingkan demi agenda keamanan negara-negara Barat.
Salah satu momen paling tegang terjadi saat sesi debat mengenai masa depan NATO. Delegasi dari Prancis dan Jerman menyerukan pembentukan “Kedaulatan Strategis Eropa”, sementara delegasi dari London dan Washington memperingatkan bahwa hal tersebut justru akan melemahkan aliansi yang sudah ada. Ketegangan ini mencerminkan krisis identitas di Barat: apakah mereka masih merupakan satu blok yang solid, ataukah kepentingan nasional telah melampaui kepentingan kolektif? Di luar ruang sidang, ribuan pengunjuk rasa menuntut agar dana militer dialihkan untuk mitigasi perubahan iklim, menambah tekanan politik bagi para pemimpin yang hadir.
Laporan tahunan MSC yang dirilis hari ini juga memperingatkan tentang “polikrisis”—di mana krisis pangan, krisis energi, dan krisis keamanan saling mengunci satu sama lain. Tanpa adanya kerangka kerja baru untuk de-eskalasi, dunia diprediksi akan masuk ke dalam era “Anarki Digital” di mana aktor non-negara dan peretas yang didukung negara dapat melumpuhkan infrastruktur nasional tanpa melepaskan satu peluru pun. Munich 2026 bukan lagi sekadar tempat bertukar kartu nama diplomatik; ini adalah ruang gawat darurat bagi diplomasi dunia yang sedang berada di ambang kehancuran total.(Red.)







