Pewartanasional.com

Netizen Journalisme

Diplomasi Nuklir Teheran: Antara Sanksi Ekonomi dan Gertakan Militer AS di Teluk
Internasional Politik

Diplomasi Nuklir Teheran: Antara Sanksi Ekonomi dan Gertakan Militer AS di Teluk

TEHERAN – Di bawah tekanan ekonomi yang mencekik dan kehadiran militer AS yang masif di perbatasannya, pemerintah Iran secara mengejutkan menawarkan jalan keluar diplomatik. Teheran menyatakan kesediaan untuk membekukan pengayaan uranium pada level tertentu dan mengizinkan inspeksi internasional yang lebih ketat. Namun, tawaran ini datang dengan syarat mutlak: pencabutan segera sanksi ekonomi yang telah diberlakukan oleh pemerintahan Donald Trump sejak awal tahun 2025. Penawaran ini dipandang sebagai upaya pragmatis Iran untuk meredakan ketegangan internal yang meningkat akibat inflasi yang tak terkendali.

AS merespons tawaran ini dengan skeptisisme tinggi. Pentagon baru-baru ini mengerahkan dua gugus tempur kapal induk ke Teluk Oman, sebuah langkah yang disebut oleh Gedung Putih sebagai “tindakan pencegahan terhadap agresi.” Kebijakan luar negeri AS saat ini cenderung menuntut kapitulasi penuh dari Iran daripada kesepakatan bertahap. Namun, beberapa diplomat senior di Washington memperingatkan bahwa menolak tawaran Iran secara mentah-mentah dapat mendorong Teheran untuk benar-benar mengembangkan senjata nuklir sebagai bentuk pertahanan terakhir, yang akan memicu perlombaan senjata nuklir di seluruh Timur Tengah.

Israel, sebagai pemain kunci di kawasan, telah memberikan peringatan keras bahwa mereka tidak akan terikat oleh kesepakatan apa pun yang tidak menjamin penghancuran total infrastruktur nuklir Iran. Intelijen Israel mengklaim bahwa Teheran hanya menggunakan diplomasi untuk “membeli waktu” sementara mereka terus memindahkan fasilitas nuklir mereka ke lokasi bawah tanah yang lebih dalam dan tahan bom. Dinamika ini menciptakan situasi yang sangat volatil di mana kesalahan perhitungan kecil dari salah satu pihak dapat memicu perang regional skala besar yang akan mengganggu pasokan minyak global dan stabilitas ekonomi dunia.

Bagi rakyat Iran, tawaran diplomasi ini adalah secercah harapan di tengah krisis kemanusiaan yang mulai membayangi akibat kelangkaan obat-obatan dan barang pokok. Para analis politik di Teheran menyebutkan bahwa faksi moderat dalam pemerintahan sedang mencoba mengambil kendali dari faksi garis keras dengan menjanjikan pemulihan ekonomi melalui jalur negosiasi. Pertanyaannya sekarang tetap berada di tangan Washington: apakah mereka akan memilih jalur diplomasi transaksional yang disukai Trump, atau tetap berpegang pada tekanan militer maksimal dengan risiko konflik terbuka? (Red.)

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *