URANG AWAK” DI JABODETABEK DIDATA UNTUK PENGAJIAN AKBAR JAKARTA

Jakarta, PENA – “Urang Awak” yang bermukim di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) didata untuk menghidupkan dan melestarikan kembali Pengajian Akbar orang Minang di perantauan.

Hal tersebut disampaikan Pembina Dai’ Rantau Minang (Da’Ram) Buya H. Fikri Bareno, http://M.Ag. Menurutnya, pengajian yang tidak aktif akan diaktifkan kembali.

Oleh karena itu, perantau yang terkumpul dalam pengajian “Urang Awak”, mulai dari tingkat RT/RW, Desa dan Kelurahan, hingga tingkat kabupaten/kota akan dihubungi untuk mengikuti Pengajian Akbar tersebut.

“Pengajian Akbar perantau Minang bagi yang memiliki komunitas pengajian, diminta untuk bersama-sama menyemarakkan kegiatan yang diprogram sekali sebulan. Bagi perantau yang sudah mempunyai komunitas pengajian dimohon mengirimkan kontak person untuk bisa dihubungi,” kata Buya.

Pengajian Akbar Minang diselenggarakan di Masjid Agung Al-Azhar Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, setiap bulan, kata Buya yang aktif dan peduli kepada komunitas perantau Minang. Ia meminta generasi muda perantau untuk memberitahukan kepada kerabat warga, dan meminta kontak person masing-masing Ketua komunitas pengajian bersangkutan.

Menurut Buya, mulai sekarang hingga hari peresmian Pengajian Akbar pada *tanggal 13 Desember 2026* akan dideklarasikan. Untuk itu diminta sebaran acara Pengajian Akbar kepada perantau dimana saja berada.

Urang Awak yang sudah ada komunitas pengajian diajak ikut meramaikan supaya berjalan. Dengan adanya nomor kontak person Ketua komunitas, mereka akan dihubungi dan diundang pada peresmian Minggu kedua bulan Desember 2026.

Menurut Buya, Masjid Al-Azhar tempat penyelenggaraan Pengajian Akbar Minang ada historisnya. Sebab masjid tersebut dibangun oleh *Buya HAMKA* dan kita jangan menjauh. Perlu melestarikannya sebagai rumah gadang kita di perantauan, terutama bagi Urang Awak yang berjumlah tembus sejutaan sebagai warga Jakarta.

“Pengajian Akbar dan baca Al-Qur’an, dalam upaya memperkokoh persaudaraan dan bersilaturahmi antar perantau, urang sumando, sumandan dan anak keponakan dalam upaya memperkokoh ‘Rang Rantau’,” ujar Buya Fikri tokoh Minang di Jakarta, Selasa (5/10).

Pendataan organisasi pengajian yang sudah ada, baik tingkat nagari, desa, kelurahan, kecamatan dan tingkat kabupaten/kota di wilayah Jabodetabek sangat potensial untuk mengembalikan pepatah _”Siriah ka gagangnyo, pinang ka tampuaknyo”_.

Artinya kita badunsanak perlu melestarikan Filosofi sesepuh yang berbunyi: _”Anak dipangku, kemenakan dibimbing, warga dikasihi, urang kampuang diperhatikan,”_ ungkap *Risman Thomas dari SAS Foundation.*

Melalui program Pengajian Akbar Minang tentu akan membangkitkan Filosofi sesepuh yang di-inisiator oleh Buya Fikri Bareno, kita akan dukung, ungkap Buya Saadi, saat ini orang tua kita yang aktif dengan komunitas pengajian.

Begitu juga Ustadzah kita *Ibu Nismawarti* yang mempunyai pengajian ibu-ibu dan aktif menggelar pengajian dari komunitas Majelis Ta’lim Al-Qur’an Jakarta Selatan.

Program pengajian perantau ini sudah berjalan sejak beberapa waktu yang lalu diselenggarakan oleh komunitas Da’Ram (Da’ Rantau Minang) tetapi kegiatan terfokus ke Masjid Blok M Square dan Puncak Masjid Pasar Tanah Abang serta Thamrin City saja yang diramaikan oleh “Urang Awak”.

“Kini kita perlu ramaikan dan lestarikan Pengajian Akbar Urang Minang yang ditetapkan di Masjid Al-Azhar yang mempunyai HISTORIS dibangun pada masa BUYA HAMKA. Kita perlu melanjutkan pengajian dan cita-citanya, dan jangan menjauhinya,” ujar Buya Fikri. (PFI/Risman)