Drs. H. Risman Thomas, MM
Mengenal Lebih Dekat Urang Awak Go UK
Nominasi Pemuda Pelopor Nasional 1996 – DKI Jakarta. Putera Pejuang Legiun Veteran RI – LVR NPV 3.027.559 dan anggota PWI No. 04.00.0142 89.T

Wartawan LKBN Antara Penerima Beasiswa British Council – Satyalancana Karya Satya XX 2010. Pendiri FIES – PFI – GMPI – IKM Jabodetabek.

Berbekal Nasi Bungkus – Filosofi: Student Today, Teacher Tomorrow Anak: Risnitawati, Risto Januarman, Putri Sundari, Serly Rahma Dewi dan Adnan Karto Sulaiman.

Istri: Yayu Srirahayuningsih

Jakarta, 7 Oktober 2026

*ESAI 1: KEPEMIMPINAN – MERANTAU BERBEKAL NASI BUNGKUS*

Saya Risman K Thomas, pemuda dari Nagari Sulit Air, Kabupaten Solok, kelahiran Pekanbaru 12 Juli 1958. Tahun 1991 saya merantau ke Jakarta sebagai Mahasiswa STIA LAN RI hanya dilepas Istri Ermawati dengan dua nasi bungkus, ditambah uang transport Rp 15.000 pemberian Sekwilda Kabupaten Solok Drs. Rusdi Lubis. Prinsip saya: Orang Lain Bisa, Kenapa Saya Tidak.

Tahun 1996, Panitia Pemilihan Pemuda Pelopor Tingkat Nasional memasukkan saya sebagai nominasi peraih Pemuda Pelopor bersama 20 pemuda lainnya se-Nusantara sebagai utusan DKI Jakarta. Saya bukan pengusaha rumah makan sukses, bukan tukang jahit seperti kebanyakan Urang Awak, tapi saya pengagum Bung Karno, Bung Hatta dan Adam Malik. Saya wartawan LKBN Antara, anggota PWI No. 04.00.0142 89.T sejak November 1989, pegawai Dirjen Sospol Depdagri.

Kepemimpinan saya teruji 20 tahun sebagai Kasi Perlindungan Masyarakat Satpol PP Jakarta Barat. Saya memimpin 350 anggota Linmas. Tesis S2 saya di STIE Widya Jayakarta (IPK 3.30, 20 Maret 2002) tentang Koordinasi dan Motivasi Linmas di Tebet adalah cerminan kepemimpinan saya. Tahun 2010, Presiden SBY menganugerahkan Satyalancana Karya Satya XX Tahun (Keppres 62/TK/2010).

Ujian terberat: menggadaikan ijazah S1 STIA LAN saya untuk sekolah anak Risnitawati (Mahasiswi STIA LAN) dan Risto Januarman (Mahasiswa Gunadarma). Seorang ayah pemimpin harus berani mengorbankan dokumennya demi pendidikan anak. Itulah leadership sejati. Saya juga Putera Pejuang LVR NPV 3.027.559 – pesan ayah: MERDEKA ATAU MATI.

Hari ini saya memimpin 28 organisasi kemasyarakatan, pendiri Gerakan Masyarakat Pejuang Indonesia (GMPI) dengan Pembina Jenderal TNI AU H. Zulhasymi dan pendiri IKM Jabodetabek dengan Ketua Brigjen TNI Drs. Adrian Adek, MAP. Saya juga perintis SMEA Kosgoro Solok dan kursus Bahasa Inggris FIES di Batusangkar, Solok, dan Jakarta, mengajar di 13 lembaga keterampilan. Filosofi saya: Student today, teacher tomorrow.

Chevening akan membawa kepemimpinan dari nasi bungkus menjadi pemimpin global.

*ESAI 2: JARINGAN – DARI PWI SAMPAI BRITISH COUNCIL*

Jaringan saya dimulai dari keterampilan Bahasa Inggris. Sejak kursus Full Intermediate di Pekanbaru 1977 sampai Padang 1986 sambil kuliah di Sekolah Tinggi Hukum Muhammadiyah Sumbar, saya membuka privat ke rumah-rumah, lalu mendirikan Friendly International English School (FIES) Jakarta. Karena Bahasa Inggris, saya mendapat Beasiswa British Council untuk program Pasca Sarjana di Amerika Serikat. Ini jaringan internasional pertama saya.

Jaringan kedua: Pers dan Humas. Sebagai anggota PWI dan anggota Persatuan Fotografi Indonesia (PFI) serta Friend of The Zoo (FOZ) Ketua Ibu Urzula Pangaribuan, saya ditempatkan di Humas di setiap dari 28 organisasi. Saya percaya 75% keberhasilan organisasi ditentukan kelancaran komunikasi dan Humas adalah kuncinya.

Jaringan ketiga: Urang Awak dan Da’Ram. Saya Pembina Dai’ Rantau Minang, menghubungkan Majelis Ta’lim se-Jabodetabek, merencanakan Pengajian Akbar 13 Desember 2026 di Masjid Agung Al-Azhar Kebayoran Baru – masjid Buya Hamka. Jaringan saya adalah 1 juta perantau Minang dengan filosofi: Karatak madang di hulu, babuah babungo balun, merantau Risman Thomas dahulu di kampung panguno balun.

Di Inggris, saya akan menghubungkan jaringan British Council lama saya dengan jaringan Chevening baru, membawa model FIES saya ke UK-Indonesia Education Forum. Saya akan memperkenalkan model Satpol PP community protection ke dewan lokal Inggris.

*ESAI 3: STUDI DI INGGRIS – MELANJUTKAN BEASISWA BRITISH COUNCIL*

Mengapa Inggris? Karena Inggris sudah memberi saya Beasiswa British Council dulu untuk studi Pasca Sarjana di Amerika Serikat. Kini saya ingin kembali ke sumbernya: belajar langsung di Inggris.

Saya ingin MA Public Administration atau MA Diaspora Studies di University of Birmingham, York, atau Warwick. Inggris adalah negara yang mengelola diaspora dengan baik dan memiliki UK Civil Contingencies Act yang relevan dengan pengalaman Satpol PP saya.

S1 Administrasi Negara STIA LAN (1995/1996) dan S2 Magister Manajemen SDM Widya Jayakarta (2002) saya perlu diperbarui dengan ilmu Inggris. Saya ingin belajar bagaimana East London Mosque mengelola layanan komunitas untuk diterapkan di Masjid Al-Azhar, Rumah Gadang kami.

Tiga alasan kuat: Akademik – memperdalam tesis koordinasi Linmas dengan evidence-based policy Inggris. Profesional – sepulang Chevening saya akan mendirikan Akademi Urang Awak, sekolah formal setingkat SLTA seperti dulu saya dirikan SMEA Kosgoro Solok. Pribadi – menunjukkan kepada Risnitawati dan Risto bahwa ayah yang dulu menggadaikan ijazah demi mereka, kini bisa membawa pulang ijazah dari Inggris.

Program 1 tahun Inggris sangat ideal, tidak lama meninggalkan komunitas yang menunggu Deklarasi 13 Desember 2026.

*ESAI 4: RENCANA KARIER – DARI CALEG DPRD DKI KE AKADEMI DIASPORA*

Flashback Badan Pemenangan Pemilu mengulas Caleg DPRD DKI Jakarta – ya, saya pernah menjadi Caleg DPRD DKI Jakarta. Kini karier saya jelas: kembali mengabdi untuk Urang Awak.

Jangka Pendek (1-2 tahun): Kembali dari Inggris, saya akan memimpin Pengajian Akbar Deklarasi Urang Awak Jabodetabek di Masjid Al-Azhar sebagai agenda tahunan. Saya akan mendirikan Urang Awak Center di Al-Azhar, menggabungkan pengalaman Satpol PP (perlindungan masyarakat), Da’Ram (dakwah), dan SAS Foundation. Saya juga akan menebus ijazah S1 yang digadaikan untuk Risnitawati dan Risto, menutup babak pengorbanan dengan ijazah Inggris di tangan.

Jangka Menengah (5 tahun): Menyusun Naskah Kebijakan Diaspora UK-Indonesia berdasarkan disertasi di Inggris, diserahkan ke Pemprov DKI dan Kemendagri. Mengusulkan setiap komunitas diaspora punya unit perlindungan seperti model Inggris. Menjadi Dosen di UKI dan STIA LAN, mengajar Administrasi Publik dengan perspektif Inggris. Seperti dulu saya pernah menjadi pegawai Honda di Kantor Bupati Solok gaji Rp 75.000/bulan, saya tahu rasanya memulai dari bawah.

Jangka Panjang (10 tahun): Membangun Akademi Diaspora Minang – akademi pertama di Indonesia untuk manajemen rantau, mengajarkan adat basandi syara’ dengan administrasi modern. Seperti kata saya dalam wawancara Harian Singgalang: “Jangan lantas anda berusaha keras agar bisa mimpi menjadi sukses, sebab mimpi pun tidak datang begitu saja. Ia adalah bunga dari pohon yang bibitnya kita tanam sendiri.” Mimpi saya: tanpa jatuh bangun kalah menang, bagaimana bisa mimpi jadi Pemuda Pelopor? Chevening adalah bunga dari pohon yang saya tanam sejak 2 nasi bungkus tahun 1991.

Indonesia butuh pemimpin yang paham birokrasi dan surau. Chevening akan menjadikan saya jembatan itu. Merdeka atau Mati!