Warga SAS Saiyo, Satidok. Foto/Ist USA MEMAKAI SIFAT AIR 2 Sebenarnya Urang Suliek Aie (USA) itu memakai sifat air, kata alm Azmy Anuwar, Datuk Tumenggung pejabat LKAM di kecamatan sepuluh koto Diatas. Kabupaten Solok. Jadi, di nagari Sulit Air, bukan sulitnya air, tapi filsafat warga itu dalam.berkiprah seperti sifat air. ” Lima sifat air yang melekat kental dalam.kehidupan warga suit air, ” kata Datuk sungguh. Ia menambahkan, sifat pertama, membersihkan yang kotor. Jadi dalam.pergaulannya suka mengatakan yang benar, benar dan yang salah, ya salah. Sifat air yang berikutnya, mendingin kan yang panas, dengan maksud sebagai pelepas ” Dahaga” bagi yang haus, dengan begitu tamu yang berkunjung mereka biasanya akan senang bila dapat memberi” Seteguk” air, ada nasi ya yang diberi nasi. Jika tidak dapat memberi minum atau makanan, maka mereka sedih dan merasa berdosa. ” Bagaimanapun kita adalah bersaudara,”kata Datuk seraya membenarkan sifat air satu dan dua agaknya kurang difahami oleh generasi sekarang, apalagi mereka yang tinggal di kota, kecuali mereka ” Nyinyir” bertanya kepada yang sudah berumur, akan mengerti Sulit Air. Sifat air yang ketiga adalah suka men dinginkan yang panas, maksudnya, adalah selalu tidak mempersoalkan hal hal yang bertentangan karena akibatnya bisa jadi pertengkaran, dan perpecahan. Sekarang bila diperhatikan perantau. USA itu, kebanyakan memakai sifat air, yang turun dari langit, jatuh ke bumi turun ke bagian yang rendah dan landai, terus mencari yang rendah dan sampai mencapai air yang bersatu ke sungai dan mengalir untuk mencapai tujuan terakhir,yakni muara. Jadi, air yang mengalir dari sungai menuju ke muara, sebelum sampai ke laut melalui muara, tentu akan banyak rintangan yang diterimanya, seperti mengalami hempasan, tumbukkan, tiba di batu belok ke kiri dan kanan, sampai di tebing diterjunkan ke bagian yang dalam dan seterusnya, terus mengalir ke tempat tempat yang rendah dan akhirnya mencapai juga muara. Dengan demikian, warga ini dalam berusaha dari pedagang kecil, misalnya saat ini, dan dua tiga tahun mendatang mereka telah menjadi pedagang menengah dan besar. Dari tidak memiliki tempat permanen berusaha, kemudian mempuyai toko yang tetap. Begitu juga bila jadi pegawai dari pegawai rendah setahun kemudian sudah menjadi, pejabat , seperti misalnya bekas pejabat BRI pusat, Yarlis Bachtiar. Mereka yang mencapai sukses, rata rata merangkak dari bawah setelah berjuang, seperti mengalirnya air dari gunung Salak di Bogor hingga ke muara Angke di Jakarta. Lain halnya seperti DR H Happy Bone Zulkarnain, MA, di Bandung, dia selama ini bergerak di Sospol, dan pernah menjadi anggota DPR RI dua periode dan kini dipercaya oleh masyarakat USA menjadi ketua Umum DPP SAS. Putera Zulkarnain itu lebih parah dari data biografinya, tapi ia bergerak tidak dalam dunia perdagangan, dalam bidang pendidikan hingga meraih Doktor, tetap menjadi kolumnis dan dulu pernah dosen tetap Institut Ilmu Pemerintahan (IIP) dan Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Lembaga Administrasi Negara ( STIA LAN) dan Universitas Padjadjaran di Bandung. Dapat dicontohkan, seperti DR Sri Rusliyanti, kini dekan Institut Sekolah Tinggi Indonesia (ISTI) di Bandung, dan Hafidz Rusli, Pjbt di Telkom di Jakarta, berdasarkan data yang ada mereka sukses dengan semboyan, ” The Succes of the man is 2 own his Support” Begitu juga, DR Prim Haryadi pejabat tinggi di Mahkamah Agung ( MA) di Jakarta, nampaknya mengikuti falsafah alm Proklamtor Bung Hatta yang mengatakan, maju mundur suatu negara, ditentukan oleh rakyatnya. Rakyat yang bagaimana, rakyat yang berpendidikan. Pendidikan yang bagaimana, pendidikan formal saja banyak Sarja menganggur, jadi tidak cukup pendidikan formal saja tetapi juga harus dipadukan dengan pendidikan Informal dari Learning to be a teacher, kemudian Learning to be a leader, baru menjadi pemimpin yang bergerak di masing masing profesinya. Itulah Urang Suliek Aie (USA). Bersambung,… 0