Mesjid Raya Koto Baro Solok. Foto/Ris YARSI JAKARTA Warga Sulit Air di Jakarta, dan di daerah perantauan lainnya, tentu bangga menengok, berdiri megah Yayasan Rumah Sakit Islam (YARSI) Jakarta yang terletak di jalan raya Cempaka Putih Jakarta pusat. Pendiri Yarsi, Profesor DR H Yurnalis Uddin, MA, kini menjadi Chief Excecutif Organisation (CEO) Yarsii dan sudah banyak membantu warganya dan cinta ke nagari asal Sulit Air sangat kental dan tinggi sekali. Selain itu, kita toreh ke tahun 1970 an, pemilik apotik Jaya alm Jamaludin Tamban apotik tertua di kota Pekan baru, dan di Jakarta serta berbagai kota perantau lainnya, juga bermula dari pedagang kecil, pada masanya menjadi Konglomerat, dan usahanya tidak saja di Indonesia, bahkan sudah ada di Jerman dan Amerika. Keenam tokoh perantau Sulit Air itu, baik dari kalangan pemerintah, bisnis edukasi bila dibaca sejarahnya lebih banyak dukanya daripada sukanya karena mulai merantau dari nagari asal, hanya bermodal tulang “Ampek Korek ” atau bermodal dengkul, alias merantau berbekal Nasi Bungkus, seperti dilakoni pendiri SAS Friendly International English School di kota Batusangkar dan SMEA Kosgoro di Solok, Sumbar. Warga nagari tandus itu, di kota Jakarta berjumlah 20.000 jiwa lebih, 95 persen tampaknya di bidang perdagangan, seperti H Samsudin Muchtar juga sukses menguasai pasar Tanah Abang sebagai produksi tas terbesar usahanya hingga mencapai kota kota besar di pulau Jawa, lima persen saja yang bekerja di pemerintahan dan lainnya. Kemana kita pergi ke berbagai pasar di lima wilayah kota Jakarta dan kabupaten administrasi kepulauan seribu, akan ditemukan pedagang Sulit Air, kata Happy Bone Zulkarnain, ketua perkumpulan perantau itu. Dengan demikian, perantau ini lebih cenderung memiliki sifat air yang keempat sebagai modal dasar merantau, kata Datuk Gompo Sinaro. Sedangkan sifat air yang terakhir, katanya sekali air besar, sekali tepian beranjak, jadi bila air sungai meluap akan menghanyutkan apa saja. Jadi, bila air sungai meluap ketika hujan turun, tentu akan menghanyut kan apa yang ada di pinggir sungai itu. Artinya perantau ini bila bertengkar, selesai bertengkar, ya habis tidak.ada dendam. Tapi sifat air sebagai falsafah hidup warga itu, banyak yang tidak tahu, bahkan generasi tuapun, agaknya kini mulai melupakan, terutama bagi mereka yang hidup di kota besar, seperti Jakarta, Bandung dan Pekanbaru. Oleh karena itu, Filsafat hidup nenek moyang kita, perlu dilestarikan secara menyeluruh dan tidak sepotong sepotong, supaya mudah dimengerti orang banyak, kata Ketua umum SAS H. Samsudin Muchtar dalam sambu tannya pada acara Halal BI Halal warga Sulit Air di Jakarta, baru baru ini. 0