Semeru Kembali Erupsi Sabtu Dini Hari, Status Masih SiagaIlustrasi

LUMAJANG — Gunung Semeru di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang, Jawa Timur, kembali erupsi pada Sabtu (7/11/2026) pukul 01.23 WIB. Berdasarkan laporan resmi Badan Geologi yang dikutip ANTARA, tinggi kolom abu teramati sekitar 200 meter di atas puncak. Erupsi dini hari ini terjadi kurang dari sepuluh jam setelah gunung tertinggi di Pulau Jawa itu meluncurkan awan panas guguran pada Jumat sore.

Kolom abu berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal dan condong ke arah barat daya. Erupsi tersebut terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 22 milimeter dan durasi 147 detik.

Erupsi Semeru Beruntun Sejak Jumat

Aktivitas Semeru meningkat sejak Jumat (6/11/2026). Sekitar pukul 12.00 WIB, detikJatim melaporkan tercatatnya 16 gempa letusan dan dua gempa guguran, disertai imbauan agar warga menjauhi radius 5 kilometer dari kawah.

Pada sore harinya, Semeru meluncurkan awan panas guguran ke arah tenggara, menuju aliran Sungai Besuk Kobokan. Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Agastya Rajendra, dalam laporan tertulis yang dikutip ANTARA menyebut erupsi pukul 15.48 WIB memuntahkan kolom letusan sekitar 1.000 meter di atas puncak. Amplitudo maksimumnya 23 milimeter dengan durasi 744 detik.

“Erupsi luncurkan awan panas guguran dengan jarak luncur sekitar 5 km ke arah tenggara,” kata Agastya. Erupsi susulan pada pukul 16.57 WIB menghasilkan kolom letusan sekitar 500 meter di atas puncak dan awan panas sejauh kurang lebih 4 kilometer.

Laporan media tidak seragam soal jarak luncur awan panas sore itu. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Lumajang, Yudhi Cahyono, kepada detikJatim menyebut awan panas guguran terjadi sekitar pukul 15.52 WIB dengan jarak luncur 4.000 meter ke arah tenggara. Sementara itu, ANTARA mencatat jarak 5 kilometer untuk erupsi pukul 15.48 WIB dan 4 kilometer untuk erupsi pukul 16.57 WIB.

Status Level III dan Zona Bahaya

Hingga laporan Jumat, status Gunung Semeru masih berada pada Level III atau Siaga. Laporan erupsi Sabtu dini hari tidak menyebutkan adanya perubahan status maupun rekomendasi baru. Dengan demikian, rekomendasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) yang berlaku sebelumnya tetap menjadi acuan, yaitu:

  • Masyarakat tidak beraktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga 13 kilometer dari puncak.
  • Di luar jarak tersebut, warga tidak beraktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan) Besuk Kobokan.
  • Warga mewaspadai potensi perluasan awan panas dan aliran lahar hingga 17 kilometer dari puncak.
  • Masyarakat tidak beraktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah karena rawan lontaran batu pijar.

Lahar di Tengah Musim Hujan

Peningkatan aktivitas Semeru terjadi ketika Lumajang tengah menghadapi bencana hidrometeorologi. Pemerintah Kabupaten Lumajang menetapkan status tanggap darurat bencana hidrometeorologi sejak Senin (2/11/2026) setelah banjir dan longsor melanda enam kecamatan, yakni Jatiroto, Tempursari, Pasirian, Pronojiwo, Senduro, dan Candipuro.

Menurut laporan VIVA, banjir lahar Semeru sempat memutus akses jalan di Desa Purorejo, Kecamatan Tempursari. Kepala Pelaksana BPBD Lumajang Isnugroho menyebut 117 kepala keluarga sempat terisolasi akibat kondisi tersebut, meski belasan di antaranya kemudian sudah dapat dijangkau.

Kombinasi endapan material erupsi di lereng dan curah hujan tinggi meningkatkan risiko banjir lahar di sungai-sungai yang berhulu di Semeru. Karena itu, PVMBG meminta warga mewaspadai aliran lahar di sepanjang Besuk Kobokan serta sungai lain yang berhulu di puncak gunung.

Yang Perlu Diperhatikan Warga

Bagi warga dan wisatawan di sekitar Lumajang dan Malang, ada beberapa hal praktis yang patut diperhatikan:

  • Ikuti informasi resmi dari PVMBG/Badan Geologi dan BPBD setempat, termasuk melalui aplikasi atau laman MAGMA Indonesia.
  • Gunakan masker bila terjadi hujan abu, terutama ketika abu bergerak ke permukiman.
  • Hindari menambang pasir atau beraktivitas di alur sungai saat hujan turun di kawasan puncak.
  • Segera menjauh dan melapor ke petugas bila melihat tanda pergerakan tanah atau kenaikan debit sungai secara tiba-tiba.

Semeru tercatat sebagai salah satu gunung api paling aktif di Indonesia. Erupsi berskala kecil hingga sedang terjadi hampir setiap hari, sehingga kepatuhan terhadap zona bahaya menjadi kunci keselamatan warga di lerengnya.

Sumber: