JAKARTA — Kelompok peretas membobol sistem Crédit Mutuel Arkéa, grup perbankan koperasi asal Prancis, dan menggondol dana sekitar 100 juta euro atau setara Rp2 triliun. Bank tersebut mengungkap insiden itu pada Rabu (4/11/2026) dan menyatakan pelaku masuk melalui platform milik penyedia layanan pihak ketiga, bukan melalui rekening nasabah. Kasus ini menyita perhatian karena pencurian langsung dari sistem perbankan konvensional dalam jumlah sebesar itu tergolong langka di Eropa. Selama ini, serangan siber berskala besar lebih sering menyasar bursa kripto atau sistem pembayaran antarbank. Kronologi Bank Prancis Dibobol Peretas Kabar pembobolan pertama kali beredar pada Senin (2/11/2026) melalui penyelidik blockchain yang dikenal dengan nama ZachXBT. Ia melaporkan adanya penarikan dana tidak sah dalam jumlah besar dari sejumlah akun di bursa kripto terpusat sehari sebelumnya. Dua hari kemudian, Crédit Mutuel Arkéa mengonfirmasi insiden tersebut. Berdasarkan keterangan bank yang dikutip BleepingComputer, pelaku menembus jaringan bank melalui platform penyedia layanan. Pelaku lalu memakai rekening milik bank sendiri untuk mengirim transaksi ke lembaga perbankan lain, kemudian mengonversi dana tersebut ke aset kripto. Pihak bank menyebut serangan itu “canggih”, berasal dari luar, dan bukan akibat kelalaian manusia. Bank juga menepis keterlibatan Fortuneo, anak usaha perbankan daringnya. Namun, bank belum menjelaskan secara rinci cara pelaku membobol sistem maupun siapa yang berada di balik serangan. Besaran Kerugian Masih Berbeda Angka kerugian yang beredar belum seragam. Kompas.com melaporkan nilai sekitar 100 juta euro atau setara Rp2,03 triliun. Sementara itu, BleepingComputer, mengutip ZachXBT, menyebut nilainya bisa mencapai 133 juta dolar AS atau sekitar 118 juta euro, yang ditarik dalam bentuk stablecoin USDC dan USDT. Crédit Mutuel Arkéa belum mengonfirmasi angka pasti. Bank hanya menyatakan dapat memvalidasi kisaran besarnya kerugian. Sebagian dana disebut telah berhasil diblokir, sedangkan upaya pemulihan sisanya masih berlangsung. Nasabah Dipastikan Aman Bank menegaskan insiden tersebut tidak berdampak pada aset nasabah. Menurut bank, dampak yang dirasakan nasabah hanya berupa keterlambatan sejumlah transfer karena beberapa transaksi sempat ditangguhkan sebagai langkah pencegahan. Bank juga menyatakan insiden telah tertangani dan terkendali. Meski demikian, nasabah diminta mewaspadai upaya penipuan berkedok phishing yang kerap muncul setelah insiden semacam ini. Bank mengimbau nasabah memverifikasi setiap kontak yang tidak diminta dengan menghubungi langsung penasihat atau kantor cabangnya. Crédit Mutuel Arkéa kini bekerja sama dengan otoritas peradilan dan kepolisian untuk menelusuri asal serta modus serangan. Celah di Rantai Pasok Digital Kasus ini kembali menyoroti risiko rantai pasok digital, yakni ketika celah keamanan justru muncul dari mitra atau vendor, bukan dari sistem inti bank. CEO RedSecLabs Rafay Baloch, seperti dikutip Kompas.com dari Reuters, menilai serangan ini belum pernah terjadi sebelumnya di Eropa. Ia menyebut bank kini menghadapi serangan yang makin kompleks, baik di lapisan aplikasi maupun melalui rekayasa sosial. Bagi industri perbankan, termasuk di Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa pengamanan tidak cukup berhenti di sistem internal. Beberapa langkah yang kerap direkomendasikan pakar keamanan antara lain: audit keamanan berkala terhadap vendor dan mitra teknologi; pembatasan hak akses pihak ketiga hanya pada sistem yang benar-benar diperlukan; pemantauan transaksi bernilai besar secara real time, termasuk aliran dana ke aset kripto; edukasi nasabah tentang modus phishing pascainsiden. Hingga kini belum ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut. Penyelidikan oleh otoritas Prancis masih berjalan. Sumber: Kompas.com BleepingComputer 0 Post navigation Digugat Praperadilan, KPK Yakin Bukti Kasus Dicky Erlangga Kuat Waspada Banjir Rob Jakarta 8-15 November, 12 Wilayah Rawan