JAKARTA — TikTok merilis aplikasi TikTok Shop yang berdiri sendiri, terpisah dari aplikasi utama TikTok, untuk perangkat Android dan iOS. Pada tahap awal, aplikasi belanja itu baru tersedia di empat negara Asia Tenggara, yakni Singapura, Malaysia, Thailand, dan Filipina. Indonesia, salah satu pasar terbesar TikTok Shop di kawasan, belum termasuk dalam daftar tersebut. Peluncuran itu pertama kali diungkap konsultan media sosial Matt Navarra dan kemudian dilaporkan sejumlah media teknologi internasional, termasuk TechCrunch dan Engadget, pada Kamis (5/11/2026). TikTok dilaporkan tidak menanggapi permintaan konfirmasi dari TechCrunch. Fitur Aplikasi TikTok Shop Berdasarkan keterangan di toko aplikasi yang dikutip sejumlah media, aplikasi TikTok Shop mandiri pada dasarnya merupakan versi ringkas dari fitur belanja yang selama ini tertanam di aplikasi TikTok. Fitur yang ditawarkan antara lain: rekomendasi produk yang disesuaikan dengan minat pengguna; belanja melalui siaran langsung (live streaming) dan video pendek; pembayaran di dalam aplikasi serta pelacakan pesanan; penawaran khusus yang hanya tersedia di aplikasi, seperti promo gratis ongkos kirim dan keuntungan untuk pembelian pertama; layanan pelanggan 24 jam. Penawaran eksklusif tersebut tampaknya dirancang untuk mendorong pengguna berpindah dari aplikasi TikTok utama ke aplikasi khusus belanja. Bersaing Langsung dengan Marketplace Dengan aplikasi terpisah, TikTok Shop kini tampil sebagai platform belanja yang setara dengan aplikasi e-commerce lain. Di Asia Tenggara, pesaing utamanya adalah Shopee dan Lazada. Posisi TikTok Shop di kawasan sudah cukup kuat. Data Cube yang dikutip Fintech News Singapore menyebut TikTok Shop menguasai sekitar 39 persen nilai transaksi bruto (GMV) gabungan Shopee, Lazada, dan TikTok Shop pada semester I-2026, naik dari 27 persen setahun sebelumnya. Shopee masih memimpin dengan porsi 55 persen. Langkah ini juga sejalan dengan upaya TikTok memperluas layanannya di luar media sosial. Dalam beberapa waktu terakhir, perusahaan itu dilaporkan menjajaki berbagai layanan baru, mulai dari gim, panduan restoran, pemesanan hotel, drama pendek, hingga pembayaran. Bagaimana dengan Indonesia? Hingga Minggu (8/11/2026), belum ada informasi resmi apakah aplikasi TikTok Shop mandiri akan hadir di Indonesia. Pemberitaan yang beredar juga belum menyebut rencana perluasan ke pasar lain, termasuk Amerika Serikat. Indonesia memiliki latar belakang yang berbeda. Pada 2023, pemerintah menerbitkan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 31 Tahun 2023 yang melarang media sosial memfasilitasi transaksi jual beli secara langsung. Setelah aturan itu berlaku, TikTok Shop sempat menutup layanannya di Indonesia, lalu kembali beroperasi melalui kerja sama dengan Tokopedia pada akhir 2023. Dengan struktur tersebut, kehadiran aplikasi TikTok Shop terpisah di Indonesia kemungkinan bergantung pada kepatuhan terhadap regulasi perdagangan elektronik serta skema kerja sama yang sudah berjalan dengan Tokopedia. Namun, hal ini masih bersifat analisis karena TikTok belum memberikan pernyataan. Apa Artinya bagi Konsumen dan Penjual Bagi konsumen di negara peluncuran, aplikasi terpisah menawarkan pengalaman belanja yang lebih fokus tanpa harus melewati linimasa hiburan. Bagi penjual dan kreator afiliasi, aplikasi ini membuka kanal tambahan untuk menjangkau pembeli yang memang berniat berbelanja. Bagi pasar Indonesia, perkembangan di negara tetangga dapat menjadi gambaran arah strategi TikTok dalam memisahkan bisnis hiburan dan perdagangan. Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang berjualan lewat TikTok Shop dan Tokopedia patut mencermati langkah lanjutan perusahaan tersebut. Sumber: ANTARA Fintech News Singapore Telset 0 Post navigation Kebakaran di Stasiun Gambir, Perjalanan Kereta Tetap Normal Bahasa Inggris Wajib di SD 2027, Pemerintah Latih Guru Kelas