MANTAN MENTERI M.S. KABAN TURUN GUNUNG, GERAKKAN KADER UMMAT HADAPI 2029 Jakarta, PENA – Mantan Menteri Kehutanan, “M.S. Kaban”, mulai turun gunung untuk memotivasi dan menggerakkan kader Partai UMMAT. Kader baru dan generasi muda kini mulai melirik partai ini untuk berperan aktif memenangkan Pemilu Presiden 2029 mendatang. Acara bergengsi ini dihadiri jajaran dari 5 wilayah DPW Provinsi DKI Jakarta dan Kabupaten Kepulauan Seribu yang dipimpin oleh “Buya Fikri Bareno, http://M.Ag.”Para peserta sangat antusias mendengarkan pengarahan dari tokoh nasional M.S. Kaban dan “KH. Kholil Ridwan” selaku Wakil Dewan Syuro Partai UMMAT. Dalam pengarahannya, M.S. Kaban mengingatkan dan membangkitkan kembali semangat juang para pemuda saat Indonesia diproklamirkan. Katanya, bangsa ini menjadi satu nation;karena adanya kesepakatan. Dulu ada Jong Java, Jong Sumatera, Jong Celebes, Jong Kalimantan, Jong Sulawesi, dan lainnya. “Dari perbedaan itu lahirlah persatuan sehingga terwujud kesatuan dari Sabang sampai Merauke,” ujarnya. Ia juga menyinggung kelompok non-pribumi pada masa kolonial yang hanya mempertahankan kelasnya sebagai “orang nomor satu” yang dimanjakan penjajah. Sementara itu, “KH. Kholil Ridwan” mengingatkan bahwa kesatuan dan persatuan bangsa saat ini tampak rontok akibat ulah segelintir pengkhianat. “Hasilnya tidak akan baik jika organisasinya tidak baik,” tegasnya. Mantan Menteri M.S. Kaban juga mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi negara saat ini. Berbagai peristiwa, perbedaan pendapat, dan masalah kebangsaan terjadi karena melemahnya rasa persatuan dan kesatuan. Pernyataan itu disampaikan pada acara “Tasyakuran dan Tausiah Kebangsaan” dalam rangka menyemarakkan “HUT RI ke-81_. Acara tersebut dilaksanakan di Sekretariat Dewan Pimpinan Wilayah Partai UMMAT (DPW PU) Provinsi DKI Jakarta, Jalan Petamburan III, Tanah Abang, Jakarta Pusat, pada awal pekan ini. Dalam kesempatan itu, M.S. Kaban juga menyoroti tokoh yang terlupakan oleh bangsa ini, yaitu “Mr. Syafruddin Prawiranegara” selaku Perdana Menteri. Beliaulah yang mengambil alih pemerintahan saat Presiden Soekarno dan Hatta ditangkap oleh kolonial di Yogyakarta. “Penjajah menganggap negara Indonesia sudah tidak ada saat itu. Tetapi dari Kota Bukittinggi, Mr. Syafruddin mengirimkan kawat hingga ke Sekretariat PBB di Amerika Serikat bahwa tampuk pimpinan negara masih ada dan dipimpin olehnya sebagai pengganti Presiden Soekarno-Hatta,” jelasnya. Ia menekankan bahwa Mr. Syafruddin layak untuk dicatat sebagai Pahlawan Nasional. *-P.FI-* 0 Post navigation Lanjutan asal usul