KUALA PEMBUANG — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, belum sepenuhnya padam meski sejumlah wilayah mulai diguyur hujan. Hasil patroli udara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Seruyan menunjukkan api masih menyala di beberapa titik, terutama di kawasan Matang Karas yang berada di perbatasan Seruyan dengan Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat. “Di daerah perbatasan Matang Karas, antara Seruyan dan Pangkalan Bun, apinya cukup besar,” kata Kepala Pelaksana BPBD Seruyan Agus Supriadi, seperti dikutip Radar Sampit, Jumat (6/11/2026). Patroli udara itu dilakukan bersama Bupati Seruyan dan Kepala Balai Taman Nasional Tanjung Puting. Titik Api Karhutla Seruyan yang Masih Terpantau Selain Matang Karas, menurut laporan Radar Sampit dan Jawa Pos, kebakaran juga terpantau di kawasan antara Water Suar dan Jemputing. Hujan yang turun dalam beberapa hari terakhir disebut belum menjangkau seluruh titik api, termasuk kawasan Matang Karas yang kepulan asapnya masih cukup tebal. BPBD Seruyan belum merilis jumlah titik api maupun luas lahan yang terbakar khusus di wilayahnya. Asap Bergerak ke Arah Pangkalan Bun Agus menduga kebakaran di perbatasan itulah yang menyebabkan jarak pandang di Pangkalan Bun cukup rendah dalam beberapa hari terakhir. “Anginnya mengarah ke sana, jadi asap bergerak ke arah barat,” ujarnya. Belum ada data resmi mengenai angka jarak pandang di kota tersebut. Gangguan asap juga dilaporkan terjadi di wilayah lain di Kalteng. Radar Sampit sebelumnya memberitakan adanya pesawat yang gagal mendarat di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, ketika kabut asap kembali menyelimuti kota itu. Kalteng Penyumbang Lahan Terbakar Terluas Secara nasional, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 742 hektare lahan terbakar hingga Senin (2/11/2026). Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan luasan terbesar, yakni 351 hektare, meski angka itu turun sekitar 42 persen dibandingkan hari sebelumnya, seperti dilaporkan Harian Disway. Wilayah berikutnya adalah Papua Selatan (253 hektare) dan Sulawesi Tenggara (95 hektare). Kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, yang wilayahnya mencakup Kotawaringin Barat dan Seruyan, sejak beberapa pekan terakhir menjadi salah satu fokus pemadaman, termasuk lewat operasi pengeboman air (water bombing) dari udara. Taman nasional ini dikenal sebagai habitat penting orangutan Kalimantan. Duka di Tengah Operasi Pemadaman Upaya pemadaman di Seruyan sempat diwarnai musibah. Pada Rabu (4/11/2026), helikopter Mi-17V5 milik Pusat Penerbangan TNI Angkatan Darat yang bertugas dalam operasi pemadaman karhutla jatuh di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Seruyan Hilir. Helikopter itu membawa delapan awak. Berdasarkan laporan Radar Sampit per Kamis (5/11/2026), dua awak dinyatakan meninggal dunia dan jenazahnya telah diberangkatkan ke kampung halaman, sementara satu awak lainnya masih dalam pencarian. Sejumlah media lain melaporkan angka korban yang berbeda seiring perkembangan pencarian, sehingga data resmi terbaru dari TNI masih perlu ditunggu. Penyebab kecelakaan masih diselidiki. Yang Perlu Diperhatikan Warga Kurangi aktivitas di luar ruangan saat asap pekat dan gunakan masker bila harus keluar rumah. Pengendara diimbau berhati-hati karena jarak pandang dapat menurun sewaktu-waktu. Hindari membuka lahan dengan cara membakar; laporkan titik api kepada BPBD atau aparat setempat. Hujan yang mulai turun memberi harapan meredanya kebakaran. Namun, selama titik api di lahan gambut belum benar-benar padam, potensi asap tetap ada dan operasi pemadaman masih dibutuhkan. Sumber: Radar Sampit: Karhutla masih Terjadi di Perbatasan Seruyan-Kotawaringin Barat Jawa Pos: Diguyur Hujan, Kebakaran Hutan di Seruyan Kalteng Ternyata Masih Menyala Harian Disway: BNPB Catat 742 Hektare Lahan Masih Terbakar, Kalimantan Tengah Jadi Wilayah Terluas Radar Sampit: Dua Jenazah Awak Helikopter Mi-17V5 yang Jatuh di Seruyan Dilepas ke Kampung Halaman 0 Post navigation Bahlil Bantah Terlibat Penyadapan Presiden, Ancam Somasi PPPK Paruh Waktu Diangkat Jadi Penuh Waktu Mulai 2027